Perubahan besar berawal dari hal kecil, dari satu keluarga yang mempraktikkan nilai-nilai kesehatan.
JATIMKINI.COM, KALIMAT itu membuka orasi ilmiah Prof. Dr. Pipit Festi Wiliyanarti, S.Kep., Ns., M.Kes. saat dikukuhkan sebagai Guru Besar Keperawatan Komunitas Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya). Bersamaan dengannya, Prof. Dr. Dra. Sujinah, M.Pd., juga resmi menyandang jabatan Guru Besar Bidang Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
Baca juga: Pelindo Regional 3 Kawasan Tegal Turun Tangan Atasi Stunting di Brebes
Dua perempuan akademisi ini membawa satu semangat yang sama, yakni transformasi pembelajaran. Bagi keduanya, perubahan pendidikan dan kesehatan bangsa harus dimulai dari manusia—dari rumah hingga ruang kelas.
Dalam orasi berjudul Optimalisasi Kesehatan Komunitas dengan Pendekatan Health Promoting Family di Era Transformasi Layanan Kesehatan, Prof. Pipit menegaskan bahwa keluarga adalah 'sekolah pertama' dalam membangun kesehatan masyarakat.
“Kita sering lupa bahwa akar dari semua penyakit dan pola hidup ada di rumah. Kebiasaan makan, istirahat, dan cara mengelola stres dibentuk dari keluarga,” ujarnya.
Menurut data Kementerian Kesehatan 2024, 73 persen kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit tidak menular, sementara stunting masih 19,8 persen. Prof. Pipit menilai, fakta itu menunjukkan bahwa transformasi sistem kesehatan nasional tidak bisa hanya bertumpu pada rumah sakit, melainkan harus memberdayakan keluarga sebagai agen promosi kesehatan.
Ia memperkenalkan konsep Health Promoting Family—keluarga yang aktif menjaga, mendidik, dan menularkan perilaku hidup sehat di lingkungan sekitarnya. Melalui penelitian di Lamongan dan Madura, pendekatan ini terbukti efektif menekan stunting lewat intervensi berbasis budaya lokal. Salah satunya melalui inovasi pangan “Koya Nate”, kombinasi ikan tuna dan tempe yang meningkatkan gizi balita.
“Jika setiap rumah tangga menjadi health promoting family, maka komunitas sehat dan bangsa kuat akan lahir dengan sendirinya,” ujarnya menegaskan.
Baca juga: Sukadiono Terima Lencana Kehormatan Jer Basuki Mawa Beya dari Gubernur Jatim
Sementara itu, Prof. Sujinah melalui pidato berjudul Transformasi Pendekatan Pembelajaran: Dari Teaching-Centered Learning hingga Deep Learning, Berujung kepada Pendidik, menyoroti pentingnya revolusi dalam cara guru memahami makna mengajar.
“Pendidikan bukan tentang memindahkan ilmu dari pendidik ke murid, melainkan menyalakan api ruh yang membuat proses belajar menjadi bermakna,” katanya.
Ia menilai banyak sistem pembelajaran di Indonesia masih terjebak pada pola lama: menekankan hafalan dan hasil, bukan pemahaman dan proses. Mengutip John Dewey, ia mengingatkan, “If we teach today as we taught yesterday, we rob our children of tomorrow.”
Prof. Sujinah mengajak para guru untuk beralih dari teacher-centered learning menuju deep learning—pendekatan yang menumbuhkan berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, dan karakter. Bagi dia, inti transformasi pendidikan bukan pada kurikulum, tetapi pada ruh seorang pendidik: etika, dedikasi, dan empati.
Baca juga: UMSurabaya Jadi Poros Baru Pelatihan Penulisan Artikel Ilmiah
“Guru yang memiliki ruh pendidikan tidak hanya hadir untuk mengajar, tetapi untuk menumbuhkan kehidupan,” ujarnya.
Mengutip hasil penelitian John Hattie (2009), ia menegaskan bahwa pengaruh guru terhadap hasil belajar siswa mencapai 30 persen—lebih besar dari pengaruh sekolah atau lingkungan. Artinya, kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas guru.
Sebagai akademisi dengan lebih dari tiga dekade pengalaman, Prof. Sujinah menutup pidatonya dengan pesan yang meneguhkan arah pendidikan UMSurabaya: “Guru bukan sekadar pengajar, tapi pembangun peradaban.”
Kedua orasi ini menunjukkan benang merah visi UMSurabaya: menjadikan kampus sebagai pusat transformasi pembelajaran yang memanusiakan manusia—baik dalam bidang kesehatan maupun pendidikan. Dari keluarga yang menyehatkan hingga guru yang mencerahkan, perubahan dimulai dari nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.
Editor : Rochman Arief