OJK Jawa Timur Dorong Inklusi Keuangan untuk Disabilitas

Reporter : Rochman Arief
Kepala OJK Jawa Timur, Yunita Linda Sari. (Foto: Rochman Arief/jatimkini.com)

JATIMKINI.COM, Upaya memperluas akses literasi dan inklusi keuangan memasuki babak baru di Jawa Timur. Tak hanya menyasar pelajar atau pelaku UMKM, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jawa Timur mulai membuka ruang lebih besar bagi kelompok penyandang disabilitas untuk ikut menjadi bagian dari sistem keuangan yang inklusif.

Langkah ini bukan sekadar memberikan edukasi, melainkan juga membuka peluang bagi mereka untuk bekerja di lingkungan OJK.

Baca juga: Pemprov Jatim Dorong Literasi Keuangan Lewat Sinergi dengan OJK

“Kami punya komitmen agar kelompok disabilitas tidak hanya jadi penerima manfaat, tapi juga bisa berkarir di OJK,” ujar Firdaus Aditya Rizqi, Deputi Direktur OJK Jatim, dijumpai di sela media gathering di Madiun, Jumat (17/10/2025).

Menurutnya, gagasan ini selaras dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs) dan telah diujicobakan di beberapa daerah. Ia mecontohkan kantor OJK Bali, pegawai disabilitas telah menjadi bagian dari struktur kerja OJK setempat. “Harapan kami, di Surabaya nanti juga bisa seperti itu. Insha Allah harusnya ada,” lanjutnya.

Komitmen terhadap SDGs ini tengah digodok di kantor pusat untuk segera diimplementasikan di daerah. “Apakah tahun ini atau tahun depan, kami masih menunggu arahan dari (kantor) pusat,” Firdaus menegaskan.

Upaya OJK Jawa Timur memperluas literasi dan inklusi keuangan tidak berhenti di ruang formal seperti sekolah atau kampus.

Bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) dan pemerintah kota, OJK menggandeng berbagai komunitas sektor informal: dari driver ojek online, muslimat, hingga kelompok pesantren melalui program One Pesantren One Product (OPOP).

Baca juga: Sinergi Pemkot Surabaya dan OJK Perkuat Literasi Keuangan, Warga Diajak Waspadai Pinjol Ilegal

Firdaus menjelaskan, pendekatan di sektor informal ini dilakukan karena karakter tiap daerah berbeda. “Masing-masing kota dan kabupaten punya organisasi dan kebijakan sendiri. Tugas kami adalah menyesuaikan dan berkolaborasi dengan mereka,” katanya.

Sementara itu, Kepala OJK Jawa Timur, Yunita Linda Sari, menilai bahwa strategi literasi paling efektif justru datang dari pendekatan berbasis komunitas. Salah satunya lewat kolaborasi dengan Kader Surabaya Hebat (KSH) dan gerakan Arek Jatim.

“Kami lihat hasilnya positif. Mereka kami angkat sebagai agen literasi karena unsur trusting dari orang terdekat lebih dipercaya,” ujar Yunita di jumpai di acara yang sama.

Ia mencontohkan, literasi yang disampaikan oleh teman atau keluarga lebih membekas ketimbang seminar satu arah. “Kalau saya kuliah satu jam, mungkin gak ada yang nyantol juga,” jelasnya menambahkan.

Baca juga: OJK Perluas Akses dan Literasi Keuangan Lewat Pojok Keuangan di Jatim Fest 2025

Ke depan, Yunita mengungkapkan rencana memperluas program ini ke tingkat provinsi dengan menggandeng PKK Jawa Timur yang dipimpin Arumi Bachsin. “Sudah kami janjikan untuk bertemu Ibu Arumi. Terima kasih sudah diingatkan, nanti kami follow up agar bisa diangkat ke level Jawa Timur,” tuturnya.

Langkah OJK Jawa Timur memperluas jangkauan literasi dan membuka kesempatan karier bagi penyandang disabilitas menandai pergeseran penting dalam pendekatan inklusi keuangan.
Dari semula berbasis penyuluhan, kini menuju model pemberdayaan yang lebih partisipatif—di mana masyarakat, termasuk mereka yang hidup dengan keterbatasan fisik, tidak lagi ditempatkan di pinggiran sistem keuangan.

Dengan strategi berbasis komunitas, kolaborasi lintas sektor, dan komitmen terhadap keberagaman, OJK Jawa Timur berupaya memastikan inklusi keuangan benar-benar berarti bagi semua.

Editor : Rochman Arief

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru