Riset Jadi Kunci, The 13th EJAVEC Forum 2026 Perkuat Sinergi Kebijakan untuk Ekonomi Jatim

Reporter : Peni Widarti
Kepala BI Jatim Ibrahim dalam gelaran EJavec Forum 2026. Foto : BI

JATIMKINI.COM, Di tengah dinamika ekonomi yang semakin kompleks, perumusan kebijakan pembangunan daerah tidak bisa lagi hanya mengandalkan intuisi, tapi harus berbasis riset yang kuat, objektif, dan berbasis bukti (evidence-based policy).

Semangat inilah yang melatarbelakangi penyelenggaraan The 13th East Java Economic (EJAVEC) Forum 2026. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga dan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Surabaya Koordinator Jatim. 

Baca juga: ISEF 2026 Bawa Wastra Lokal ke Pasar Global, 4 UMKM Modest Fashion Binaan BI Jatim ke Jakarta

Mereka menggelar forum bergengsi ini dengan tema "Mengakselerasi Pembangunan Wilayah untuk Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur yang Unggul, Inklusif, serta Berkelanjutan, Menuju Ketahanan dan Kemandirian Ekonomi Nasional.” Acara Conference and Winner Announcement digelar di Surabaya, Selasa (21/10/2026).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, menekankan pentingnya mempertemukan pemahaman kondisi riil di lapangan dengan pendekatan akademis yang teruji.

"Pemahaman terhadap kondisi dan permasalahan ekonomi di lapangan merupakan modal penting dalam perumusan kebijakan. Namun, pemahaman tersebut perlu dilengkapi dengan riset dan analisis ilmiah yang kuat, agar rekomendasi yang dihasilkan tidak hanya relevan, tetapi juga objektif, terukur, dan dapat diimplementasikan," ungkap Ibrahim.

Jatim Butuh Strategi Berbasis Riset

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, yang turut hadir menegaskan peran strategis Jawa Timur sebagai penyumbang ekonomi terbesar kedua secara nasional. Besarnya kontribusi tersebut, menurutnya, harus diimbangi dengan strategi pembangunan yang memperhatikan karakteristik wilayah dan perubahan lingkungan ekonomi global.

"Oleh karena itu, dukungan riset dan kajian ekonomi menjadi semakin penting untuk memperkuat ketepatan arah kebijakan pembangunan," tegas Emil.

Baca juga: ISEF 2026 Usung Semangat "Kebaikan untuk Semua", 10 UMKM Binaan BI Jatim Tampil di Etalase Nasional

Sebagai wujud komitmen, Kepala Perwakilan BI Jatim menyerahkan Prosiding Finalis EJAVEC 2026 dan Laporan Perekonomian Provinsi Jawa Timur Triwulan II 2026 kepada Wagub Jatim sebagai masukan kebijakan pembangunan daerah.

Memasuki tahun ke-13 sejak 2014, EJAVEC terus menunjukkan tren positif. Tahun ini, jumlah karya ilmiah yang masuk mencapai 559 paper, meningkat 48,67% dibanding tahun sebelumnya. Menariknya, partisipasi tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari Inggris, Australia, dan Taiwan.

Enam subtema utama yang diangkat tahun ini meliputi: daya saing industri dan hilirisasi, ketahanan pangan dan stabilitas harga, perdagangan dan konektivitas regional, pariwisata dan sumber ekonomi baru, pengembangan UMKM dan inklusi keuangan, serta kesiapan pasar tenaga kerja.

Rangkaian konferensi juga menghadirkan seminar ekonomi dengan pembicara Dekan FEB Unair Prof. Dr. Rudi Purwono, Ekonom Senior dan Founder CORE Indonesia Hendri Saparini, serta Founder Disway National Network Dahlan Iskan.

Baca juga: BI : Potensi Wakaf Rp180 Triliun Belum Tergarap Maksimal

Dahlan Iskan menyoroti pentingnya mendorong hasil riset menjadi inovasi yang memiliki nilai ekonomi, melalui pengembangan peluang pasar dan pemanfaatan digitalisasi untuk mendukung UMKM naik kelas.

Ke depan, BI Jatim berkomitmen terus memperkuat EJAVEC sebagai forum kolaborasi akademisi, pemerintah, dan dunia usaha untuk menghasilkan rekomendasi yang tidak berhenti sebagai karya akademis, tetapi memberikan manfaat nyata bagi pembangunan ekonomi Jawa Timur yang inklusif dan berkelanjutan.

 

 

Editor : Peni Widarti

Ekonomi
Berita Populer
Berita Terbaru